Showing posts with label tariqat. Show all posts
Showing posts with label tariqat. Show all posts

Wednesday, July 6, 2011

Bantahan terhadap Tarikat

Ulama dan ilmuwan Indonesia yang gigih meluruskan bahkan membantah keras tentang tarekat di antaranya HSA Al-Hamdani dari Pekalongan Jawa Tengah dengan bukunya Bantahan Singkat terhadap Kelancangan Pembela Tashawuf dan Tarekat, 1972; Sorotan-sorotan terhadap Kitab-kitab Wirid -Dzikir- Hizb Doa dan Salawat; juga Sanggahan terhadap Tashawuf dan Ahli Sufi dan Sorotan terhadap Kisah Maulid, Nishfu Sya'ban, manakib Seikh Abdul Kadir Djailany. Sanggahan lain juga ditulis oleh Drs Yunasril Ali, dengan tajuk Membersihkan Tashawwuf dari Syirik, Bid'ah, dan Khurafat. Sedang Abdul Qadir Jaelani da'i dari Bogor Jawa Barat menulis bantahan dengan judul Koreksi terhadap Tasawuf. Juga bantahan-batahan yang ditulis dalam tanya jawab, misalnya oleh Ustadz Umar Hubeis dalam kitabnya, Fatawa dll.

Berikut ini kami kutip sebahagian bantahan Drs Yunasril Ali, kemudian HSA Al-Hamdany. Sedang bantahan dari kitab-kitab Arab banyak pula, namun kerana masalah tarekat ini orang Indonesia juga terikut-ikut mendirikannya (menciptakannya) bahkan mengorganisasikannya, maka kami kemukakan bantahan dari ulama dan ilmuwan Indonesia.

Drs Yunasril Ali dalam bukunya Membersihkan Tashawwuf dari Syirik, Bid'ah, dan Khurafat menjelaskan, masing-masing tarekat itu merumuskan amalan-amalan tersendiri , sehingga antara satu dengan yang lain saling berbeza cara amaliahnya. Namun demikian amaliah yang berbeza-beza itu semuanya mereka nisbahkan kepada dua sahabat besar: Ali bin Abi Thalib dan Abu Bakar Shiddiq. Entah mana yang benar di antara tarekat-tarekat itu yang berasal dari Ali dan Abu Bakar, wallahu a'lam.

Dasar mereka mendirikan tarekat ialah:

1. Firman Allah SWT:
Ertinya: "Dan bahwasanya jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu, benar-benar Kami akan memberi minum mereka dengan air yang segar. " (QS Al-Jinn/ 72:16).

2. Firman Allah SWT:
Ertinya: "Maka barangsiapa yang ingin berjumpa dengan Allah, hendaklah ia mengerjakan amal shalih dan janganlah ia mempersekutukan siapa pun dalam beribadah kepada Tuhan." (QS Al-Kahfi/ 18:110).

3. Hadits:
Qoola 'Aliyyubnu Abii Thoolib: Qultu: Yaa Rasuulallaah, ayyut thoriiqoti aqrobu ilallooh? Faqoola Rasuulullaahi SAW: Dzikrulloohi.

Ertinya: Ali bin Abi Thalib berkata: saya bertanya: Ya Rasulallah, "Manakah tarekat yang sedekat-dekatnya mencapai Tuhan? Maka Rasulullah SAW menjawab, "dzikir kepada Allah." (Dr Mustafazahri, Kunci Memahami Tasawwuf, halaman 87, seperti dikutip Drs Yunasril Ali halaman 54).

koreksi (dari Drs Yunasril Ali): Di dalam Al-Quran didapati kata "thariqah" dan musytaqnya (pecahan kata yang berasal darinya) di sembilan tempat iaitu:

1. firman Allah SWT:
Ertinya: "Mereka berkata: hai kaum kami, sesungguhnya kami mendengar kitab (Al-Quran) yang telah diturunkan sesudah Musa, yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus." (QS Al-Ahqaaf/ 46:30).

2. Firman Allah SWT:
Ertinya: "Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan melakukan kezaliman, Allah sekali-kali tidak akan mengampuni (dosa-dosa) mereka dan tidaklah akan menunjukkan jalan kepada mereka." (QS An-Nisaa/ 4:168).

3. Firman Allah SWT (sambungan ayat no.2):
Ertinya: "Kecuali jalan ke neraka jahanam; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Dan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah". (QS An-Nisaa'/ 4:169).

4. Firman Allah SWT:
Ertinya: "Kami lebih mengetahui apa yang mereka katakan, ketika berkata orang yang paling lurus jalannya di antara mereka!" Kamu tidak tinggal (di dunia) melainkan sehari saja." (QS Thaha/ 20:104).

5. Firman Allah SWT:
Ertinya: "Dan sesungguhnya telah Kami wahyukan kepada Musa: "Pergilah kamu dengan hamba-hambaKu (Bani Israel) di malam hari, maka buatlah untuk mereka
[1]jalan[1] yang kering di laut itu, kamu tidak usah khawatir akan tersusul dan tidak usah takut (akan tenggelam)." (QS Thah/ 20:77).

6. Firman Allah SWT:
Ertinya: "Mereka berkata: "Sesungguhnya dua orang ini adalah benar-benar ahli sihir yang hendak mengusir kamu dari negeri kamu dengan sihirnya dan hendak melenyapkan kedudukan kamu yang utama." (QS Thaha/ 20:63).

7. Firman Allah SWT:
Ertinya: "Dan bahwasanya jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu benar-benar Kami akan memberi minum mereka dengan air yang segar." (QS Al-Jinn/ 72:16).

8. Firman Allah SWT:
Ertinya: "Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan di atas kamu tujuh buah jalan (tujuh langit); dan Kami tidaklah lengah terhadap ciptaan (Kami)". (QS Al-Mu'minuun/ 23:17).

9. Dan Firman Allah SWT:
Ertinya: "Dan sesungguhnya di antara Kami ada orang-orang yang shalih dan di antara Kami ada pula orang yang tidak demikian halnya. Adalah kami menempuh jalan yang berbeza-beza." (QS Al-Jinn/ 72:11).

Demikianlah penulis kutip di sini 9 buah kata "thariqah" dan musytaqnya yang terdapat dalam kitab suci Al-Quran. Tidak satupun yang menunjukkan kepada tarekat yang dipropagandakan oleh penganutnya, yang mereka berdzikir tanpa sedar diri dan tidak pula ingat kepada Tuhan lagi.

Untuk lebih jelas, penulis kemukakan erti thoriqoh dalam ayat-ayat di atas dengan mengutipnya dari tafsir-tafsir yang mu'tabar, sebagai berikut:

1. Kata "thariqin" dalam surat al-Ahqaf ayat 30 ertinya ialah "Agama Islam" (Al-Qasimy, Tafsir Mahasinut Ta'wil, juz XV hal. 94).
2. Kata "thariqon" dalam surat An-Nisaa' ayat 168 ertinya ialah "satu jalan dari jalan-jalan menuju jahannam". (Al-Jalalain, Tafsir Al-Quranil Kariem, juz I, hal. 94).
3. Kata "thoriqo jahanam" dalam Surat An-Nisaa' ayat 169 ertinya ialah "jalan yang menyampaikan orang menuju jahannam". (ibid).
4. Kata "thoriqoh" dalam Surat Thaha ayat 104 ertinya ialah "jalan" (ibid, juz II, hal 26). Ada pula ahli tafsir yang mengatakan "jalan yang lurus" di sini ialah orang yang agak lurus pikirannya atau amalnya di antara orang-orang yang berdosa itu.

(Departemen Agama RI, Al-Quran dan Terjemahnya, note hal. 488).

5. Kata "thoriqon" dalam S Thaha ayat 77 bererti "Allah mengeringkan bumi sebagai jalan bagi Musa dan kaumnya." (Al-Jalalain, opcit, juz II, hal. 24).
6. Kata "thoriqoh" dalam S Thaha ayat 63 ada yang mengertikannya dengan "keyakinan (agama)" (Departemen Agama RI, Opcit, hal. 482). Dan ada pula yang menafsirkannya dengan "Bani Israel". (Az-Zamakhsyary, Tafsir Al-Kassyaf, Jilid II, hal. 543).
7. Kata "thoriqoh" dalam S Al-Jinn ayat 16 ertinya "jalan kebenaran dan keadilan". (Al-Qasimi, Tafsir Mahasinut Ta'wil, juz XVI, hal. 5950).
8. Kata "thoroiq" dalam surat al-Mu'minun ayat 17 ertinya "langit", thoroiq kata jama' dari thoriqoh, kerana ia adalah jalan-jalan malaikat." (Al-Jalalain, opcit, juz II, hal. 45).
9. Kata "thoroiq" dalam S Al-Jinn ayat 11 ertinya "Golongan yang berbeza pendapat di kalangan muslimin dan kafir." (ibid, hal. 240).

Inilah ertinya kata "thoriqoh" dan musytaqnya yang ada dalam Al-Quran. Tidak satupun dari kata-kata itu yang menunjukkan method ibadah dalam tasawwuf. Memang ada thoriqoh yang bererti golongan-golongan di kalangan kaum muslimin, tetapi maksudnya ialah golongan yang berbeza pendapat dalam menafsirkan Al-Quran dan Al-Hadits. Bukan golongan yang membuat-buat tarekat tertentu yang dihasilkan oleh renungan guru.

Kalaulah benar bahawa yang dimaskud dengan tariqat di dalam ayat-ayat itu ialah penjelasan dari Al-Quran dan As-Sunnah yang secara langsung dituntunkan dan dipraktekkan oleh seorang guru kepada muridnya, seperti membimbing bagaimana cara berdiri betul dalam solat, bagaimana cara takbir, ruku', sujud, duduk antara dua sujud, duduk tahiyyat, cara membaca bacaan-bacaan solat, dan lain-lain; sesuai dengan cara yang ditentukan oleh Rasul SAW. kepada para shahabatnya, maka tarekat seperti ini dapat penulis terima, kerana tarekat ini adalah sebahagian dari as-sunnah, yang disebut dengan sunnah fi'liyah. Jadi tarekat dalam pengertian seperti ini termasuk sunnah. Dan memang tarekat (sunnah fi'liyah) yang seperti inilah yang disuruh dalam mengajarkan agama. Rasulullah SAW pernah membimbing seorang Badwi dalam pelaksanaan solat, kerana orang Badwi tersebut belum tepat cara ia melaksanakan solat. (Lihat Ibnu Qudamah Al-Maqdisi, al-Muharrar, hal. 42).

Adapun membuat-buat ibadah dengan cara baru, lalu dinamakan tarekat, ini bid'ah. Contohnya ialah seperti mengadakan dzikir lisan, dzikir qolbu dan dzikir sirr; semuanya itu tidak pernah ada diriwayatkan dari Rasul SAW. atau dari para shahabat beliau. Jadi perbuatan ibadah seperti itu adalah bid'ah yang dibuat-buat oleh para penganut tarekat untuk mendekatkan diri kepada Allah. Padahal agama Islam, baik aqidah mahupun tatacara ibadatnya sudah sempurna, tidak usah ditambah-tambah. (Drs Yunasril Ali, Membersihkan Tasawwuf dari Syirik, Bid'ah, dan Khurafat, Pedoman Ilmu Jaya, Jakarta, cet. III 1992, hal. 53-59).

Bantahan terhadap tarekat dalam polemik

Bantahan terhadap tarekat lainnya, boleh disemak polemik antara HSA Al-Hamdani dengan doktor (thabib) Rohani Sjech H Djalaluddin Ketua Umum seumur hidup Pengurus Besar PPTI di Medan.

HSA Al-Hamdani membantah orang yang menjadikan Surah Al-Fajr ayat 28 sebagai landasan tarekat sebagai berikut:

"...Anda (Thabib-Rohani Djamaluddin) antara lain menulis: Arti ma'na Tharekat pada istilah (adalah) perjalanan rohani (nurani, jiwa, hati robani) berjalan mencari Allah. Perjalanan yang bertingkat-tingkat dari satu tingkat demi satu tingkat, hingga ia bertemu Allah. Lihatlah QS al-Fajari ayat no. 28; maksudnya kira-kira: kembali (pergilah, berjalanlah, bertarekatlah kepada Tuhanmu (Allah). Kemudian Anda menulis: Mengingat ayat yang tersebut merupakan amar wajib, tentulah wajib bagi kita ber-Tharekat."

Komentar HSA Al-Hamdani ulama Al-Irsyad Pekalongan terhadap lawan polemiknya, Thabib Djamaluddin, itu sebagai berikut:

Semoga Allah mengampuni dosa anda (Thabib-Rohani Djamaluddin), kerana anda telah menafsirkan ayat Tuhan sesuka hati anda! Bacalah tafsir ayat itu menurut rangkaian ayat sebelumnya, jangan terus mendabik dada dan berkata: Saya sudah hafal bertahun-tahun di dalam fikiran saya di waktu saya mempertahankan tasawuf di masa silam... dan seterusnya. Jangan anda menafsirkan se-enaknya sendiri, dan jangan pula semahu-mahunya menta'wilkan erti ayat al-Quran menurut selera yang dikehendaki nafsu anda!!

Tahukah anda bahawa ayat itu (yang anda buat dalil perintah bertarekat) adalah kesinbungan daripada ayat yang sebelumnya yang berbunyi:

Yaa ayyatuhan nafsul muthmainnah, irji'ii ilaa robbiki roodhiyatam mardhiyyah, fadkhulii fii 'ibaadii wadkhulii jannatii.

Yang ertinya: Hai jiwa yang tenang (suci). Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas (kerana amal-amalmu yang baik semasa hidup) lagi diridhainya (oleh Allah). Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hambaku (yang soleh) dan masuklah ke dalam syurgaKu. (QS Al-Fajri).

Jelas bahawa khitob (ajakan bicara) itu ditujukan kepada jiwa-jiwa manusia yang sempurna imannya yang muslimin mukminin dan muttaqin nantikan pada hari kiamat kelak sebagai penghargaan Allah atas amalan mereka yang baik dan soleh. Dan kalau ayat itu anda katakan sebagai amar wajib bertarekat, maka wajib bertarekatkah anda pada hari kiamat nanti untuk mencari Allah?

HSA Hamdani melanjutkan tulisannya: Memang orang-orang ahli tharekat atau ahli sufi suka lancang dalam menafsirkan ayat-ayat semahunya sendiri seperti yang anda katakan: "Di Pakistan Barat dikatakan sulukan naksyabandi, unsurnya QS An-Nahl no. 69, maksudnya kira-kira: Dan laluilah jalan (Tharekat) Allah dengan patuh. Sedang ayat yang dimaksud ertinya sebagai berikut:

Ayat 68 S An-Nahl: Tuhanmu telah mewahyukan kepada lebah: Buatlah rumah di atas bukit dan di atas pohon kayu dan pada apa-apa yang mereka jadikan atap.

Ayat 69: Kemudian makanlah bermacam-macam buah-buahan dan laluilah jalan Tuhanmu, dengan mudah akan keluar dari dalam perutnya minuman (madu) yang berlain-lainan warnanya, untuk menyembuhkan penyakit manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu menjadi keterangan (atas kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan.

Jelas khitob ayat itu menyatakan bahawa Allah memerintahkan kepada lebah untuk mengikuti ilham yang diberikan oleh Allah kepadanya, sehingga lebah itu dapat menghasilkan madu. Maka ini anda gunakan untuk dalil tarekat? (HSA Al-Hamdani, bantahan Singkat terhadap Kelantjangan pembela Tashawuf dan Tarekat,

Penerbit HSA Al-Hamdani, Pekalongan, cetakan pertama, 1972, halaman 14-15).

Pertanyaan selanjutnya, pembaca boleh mengajukan sendiri, misalnya: Kenapa tarekat-tarekat yang ternyata tidak ada landasannya dari Al-Quran mahupun al-Hadits itu justru dihidup-hidupkan? Dan kenapa justru ada organisasi yang memayungi dengan bentuk organisasi pula seperti tersebut di atas? Tugas para alim ulama --yang istiqomah mengikuti Al-Quran dan As-Sunnah-- lah untuk melanjutkan dakwah terhadap mereka dengan hikmah dan mau'idhah hasanah, dan kalau perlu dengan wajadilhum, iaitu membantah mereka dengan hujjah yang lebih baik.


H Hartono Ahmad Jaiz

islamic media info ibnuisa files

banksufi.blogspot.com


berbagai jenis tarikat

Tarikat atau tarekat berasal dari lafaz Arab thariqah ertinya jalan. Kemudian mereka maksudkan sebagai jalan menuju Tuhan; Ilmu batin, Tasawuf.

Perkataan Tarikat ("jalan" bertasawuf yang bersifat amali) lebih dikenali berbanding tasawuf, khususnya dalam kalangan para pengikut awam yang merupakan bahagian terbesar.

Tarikat tidak membicarakan falsafah tasawuf, tetapi merupakan amalan (tasawuf) atau initiative. Pengalaman tarikat merupakan suatu kepatuhan secara ketat kepada peraturan-peraturan syariat Islam dan mengamalkannya dengan sebaik-baiknya, baik yang bersifat ritual mahupun sosial, iaitu dengan menjalankan perbuatan-perbuatan dan mengerjakan amalan yang bersifat sunat, baik sebelum mahupun sesudah solat wajib, dan mengamalkan riyadah. Para kyai menganggap dirinya sebagai ahli tarikat. (Leksikon Islam, Pustaka Azet Perkasa Jakarta 1988, II, hal 707).

Selanjutnya, tentang tarikat ini kami kutip dari buku tersebut (leksikon Islam), kerana sudah dirangkum dengan keadaan di Indonesia sehingga mudah dicerna. Setelah itu baru kami ambil komen tentang tarikat dari berbagai sumber lain. Sehingga pembongkaran tarikat yang kami kutip berikut ini merupakan bahan yang akan dikomenkan sesudahnya.

Dalam tradisi sekolah asrama terdapat dua bentuk tarikat: (1) yang dipratekkan menurut cara-cara yang dilakukan oleh organisasi-organisasi tarikat, (2) yang dipratekkan menurut cara di luar ketentuan organisasi-organisasi tarikat.

Tidak semua organisasi tarikat menganut sistem kepercayaan dan amalan keagamaan yang sama. Terdapat dua kelompok (a) yang sepenuhnya sejalan dengan ajaran-ajaran Al-Qur`an dan hadis; (b) yang tidak memiliki kaitan yang cukup kuat dengan Al-Qur`an dan hadis.

Berikut ini ada beberapa tarikat-tarikat yang menerangkan nama pendirinya, wafat pendirinya, tempat tarikatnya, pengaruhnya, asal-usulnya dan keterangan-keterangan yang perlu.

Tarikat Haddadiah
Tarikat yang didirikan oleh Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad yang wafat 1095M di Yaman. Ramai orang yang takut ikut tarikatnya berhubung ratibnya yang terkenal, Ratib Al-Haddad, dipercayai sebagai doa selamat yang bermantera. Pengaruhnya tak hanya di Aceh, tapi hampir di seluruh negara Indonesia.

Tarikat Khalwatiah
Tarikat yang diprogandakan dalam abad-18 oleh Syaikh Mustafa Al-Bakri di Mesir dan Suriah. Salah seorang tokoh tarikat ini ialah Ahmad At-Tijani yang berasal dari Aljazair.

Tarikat Maulawiah
Tarikat yang didirikan oleh Maulwi Jalaluddin Ar-Rumi, meninggal dunia di Anatoila, Turki. Zikirnya disertai tarian mistik dengan cara keadaan tak sadar, agar dapat bersatu dengan Tuhan. Penganut-penganutnya bersifat pengasih dan tidak mengharapkan mementingkan diri sendiri, serta hidup sederahana menjadi teladan bagi orang lain.

Tarikat Mu`tabarah Nahdliyin
Para kyai pada tanggal 10 Oktober 1957 mendirikan suatu badan federation bernama Pucuk Pimpinan Jam`iyah Ahli Tariqah Mu`tabarah, sebagai tindakan lanjut keputusan Muktamar N.U. (nahdlatul Ulama) 1957 di Magelang. Belakangan dalam Muktamar N.U. 1979 di Semarang ditambahkan kata Nahdliyin, untuk menegaskan bahawa badan ini tetap bersekutu kepada NU. Sejak berdirinya pimpinan tertinggi badan ini ialah para kyai ternama dari sekolah-sekolah berasrama besar.

Dalam anggaran dasarnya dinyatakan bahawa badan ini bertujuan:

(1) meningkatkan pengamalan syariat Islam di kalangan masyarakat;
(2) mempertebal kesetiaan masyarakat kepada ajaran-ajaran dari salah satu Mazhab yang empat; dan
(3) menganjurkan para anggota agar meningkatkan amalan-amalan Ibadah dan Muamalah, sesuai dengan yang dicontohkan para ulama salihin.

Pasal 4 menyatakan bahawa badan ini akan tetap setia kepada fahaman Ahlussunnah wal-Jama`ah.
Alasan utama mendirikan badan federation ini adalah:

(1) untuk membimbing organisasi-organisasi tarikat yang dinilai belum mengajarkan amalan-amalan yang sesuai dengan Al-Qur`an dan hadis;
(2) untuk mengawasi organisasi-organisasi tarikat agar tidak menyalahgunakan pengaruhnya untuk kepentingan yang tidak dibenarkan oleh ajaran-ajaran agama.

Tarikat Naqsyabandiah
Tarikat ini mula-mula didirikan di Turkestan oleh Bahiruddin Naqsyabandi (sumber lain menyebutkan, Muhammad bin Muhammad Bahauddin al-Bukhari 1317-1389M, bukan Imam Al-Bukhari perawi Hadits) dan di Indonesia termasuk tarikat yang paling berpengaruh. Pimpinannya, Sulaiman Effendi, mempunyai markas besar yang terletak di kaki gunung Abu Qubbais di pinggiran kota Makkah. Pengikut-pengikutnya kebanyakan dari Turki dan wilayah-wilayah India Belanda dulu, serta di bekas jajahan Inggris di daerah Melayu.

Pada umumnya tarikat ini paling banyak pengikutnya di Jawa sejak abad ke-19 sampai saat ini.
Tarikat ini adalah tarikat terbesar di dunia, juga di Indonesia, dan dianggap paling dijaga baik. Ada pemilihan untuk jadi pengikutnya. Markasnya di Jawa ada di Jombang, Semarang, Sukabumi, Labuhan Haji (Aceh) di madrasah Syaikh Waly, Khalidi.

Tarikat Qadiriah
Asal mulanya di Bagdad, dan dipandang paling tua. Pendirinya ialah Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani (1077-1166M). pada mulanya ia seorang ahli bahasa dan ahli Fiqih dari mazhab Hambali. Tulisannya pada umumnya berdasarkan ajaran Ahlus-Sunnah wal-Jama`ah. Ada sejumlah bukunya yang ditulis oleh murid-muridnya yang menceritakan kesaktiannya.

Pelajaran Tarikat Qadiriah tidak jauh berbeza dari pelajaran Islam umum. Hanya saja tarikat ini mementingkan kasih sayang terhadap semua makhluk, rendah hati dan menjauhi fanatisme dalam keagamaan mahupun politik. Keistimewaan tarikatnya ialah zikir dengan menyebut-nyebut nama Tuhan.

Kaum Qadiriah terlalu menyamakan Tuhan dengan manusia. fahaman Qadiriah pada hakikatnya adalah sebahagian dari fahaman Mu`tazilah, kerana imam-imamnya orang mu`tazilah. aliran Qadariyah, iaitu aliran yang menganggap bahawa manusia ini bebas dan berkuasa penuh untuk menentukan dirinya, tidak ada campur tangan Tuhan, lawan dari aliran Jabbariyah yang menganggap manusia hanya bagai wayang yang seluruhnya dijalankan oleh dalang, semuanya digerakkan oleh Tuhan tanpa ada upaya manusia,. Selanjutnya, Leksikon Islam itu menulis:)

Ada anggapan membaca Manaqib Syaikh Abdul Qadir Jilani pada tanggal 10 malam tiap bulan dapat melepaskan kemiskinan. Kerana itu manaqibnya popular, baik di Jawa mahupun Sumatra. (Ini jelas bid'ah dan sesat, lihat Sorotan terhadap Kissah Maulid, Nisfu Sya'ban, Manakib Syaikh AK Jailany oleh HSAAl-Hamdany, Pekalongan, 1971, dan Kitab Manakib Syekh AbdulQadir Jaelani Merosak Aqidah Islam oleh Drs Imron AM, Yayasan Al-Muslimun Bangil Jatim, cetakan keenam, 1411H/ 1990).


Kadang kala tarikat ini digabung dengan Naqsyabandiah menjadi Tarikat Qadiriyah Naqsyabandiyah. Seperti halnya di Suryalaya (Tasikmalaya Jawa Barat, dipimpin Abah Anom, yang sering dikunjungi Harun Nasution) dan Jombang (Jawa Timur, daerah kelahiran Presiden Gus Dur).

Tarikat Qadiriah Naqsyabandiah
Gabungan ajaran dua tarikat, iaitu Tarikat Qadiriah dan Tarikat Naqsyabandiah. Pendirinya Syaikh Khatib Sambas. Tarikat ini merupakan aset yang sangat penting bagi penyebaran agama Islam di Indonesia dan Malaya dari pusatnya di Makkah antara pertengahan abad ke-19 sampai dengan perempat pertama abad ke-20.

Tarikat Rifa'iah
Didirikan oleh Syaikh Ahmad bin Ali-Abul Abbas (wafat 578H/1183M). Syaikh Ahmad, yang konon guru Syaikh Abdul Qadir Jilani, begitu asyik berzikir hingga tubuhnya terangkat ke atas, ke angkasa. Tangannya menepuk-nepuk dadanya. Kemudian Allah memerintahkan kepada bidadari untuk memberinya rebana di dadanya, daripada menepuk-nepuk dada.
Tapi Syaikh Ahmad tidak ingat apa-apa; begitu khusuknya, sehingga ia tak mendengar suara rebananya yang nyaring itu. Padahal seluruh dunia mendengar suara rebana itu.
Tarikat ini agak fanatik dan anggotanya dapat melakukan hal-hal yang ajaib, misalnya makan pecahan kaca, berjalan di atas api, dan sebagainya. Rifa`iah, yang memang merinci tarikatnya dengan rebana, di Aceh dulu pernah berkembang besar dan disebut Rapa'i sudah sukar mencarinya yang asli, yang masih berpegang teguh pada ajaran.

Tarikat Samaniah
Tarikat yang terkenal di Jawa Barat dan Aceh, didirikan oleh Syaikh Muhammad Saman Dari Madinah, Arab Saudi, yang wafat tahun 1702 M. Manaqib (riwayat hidup) Syaikh Saman banyak dibaca orang yang mengharap berkah. Manaqib itu ditulis oleh Syaikh Siddiq Al-Madani, murid beliau.
Di situ tertulis: "barang siapa berziarah ke makam Rasullah tanpa meminta izin kepada Syaikh Saman ziarahnya sia-sia." (Ini contoh kebatilan yang nyata).
Juga disebutkan: "Siapa yang menyeru nama Syaikh tiga kali, hilang kesedihannya. Siapa yang makan-makanannya masuk surga. Siapa yang berziarah ke makamnya serta membaca doa-doa untuknya, diampuni dosanya." (ini benar-benar mengada-ada atas nama agama, na'udzubillahi min dzaalik). Tarikat Saman sekarang menjadi tari Seudati di Aceh. Zikir Saman mulanya hampir sama dengan zikir-zikir yang lain. Namun kemudian berkembang menjadi zikir yang ekstrim.

Tarikat Sanusiah
Tarikat yang didirikan oleh Syaikh Muhammad bin Ali As-Sanusi, tahun 1837, di Aljazair, meninggal dunia tahun 1957. Pusat tarikat ini di Libia.

Tarikat Siddiqiah
Asal-usul tarikat ini tidak begitu jelas, dan tidak terdapat di negara-negara lain. Muncul dan berkembang di Jombang, Jawa Timur, dimulai oleh kegiatan Kiyai Mukhtar Mukti yang mendirikan tarikat ini tahun 1953.

Tarikat Syattariah
Tarikat yang dibangun oleh Syaikh Abdullah Syattari di India. Tarikat ini di Jawa masih ada, misalnya di sekitar Madiun. Di Aceh dulu mengalami puncaknya di zaman Sultanah (Ratu) Safiatuddin. Tarikat ini dibawa oleh Syaikh Abdurra'uf Sinkil yang kemudian bergelar Syiah Kuala.

Tarikat Syaziliah
Tarikat yang didirikan oleh Ali As-Syazili, terdapat di Afrika Utara, dan Arab, juga Indonesia, walaupun tidak luas tersebarnya dan pengaruh relative nya kecil.

Tarikat Tijaniah
Tarikat yang didirikan oleh Ahmad At-Tijani. Tarikat ini dengan cepat meluas di Afrika Barat dan di negara-negara lain, antaranya Indonesia. Di Afrika tarikat ini telah banyak yang mengislamkan orang-orang Negro. (Ahmad At-Tijani ini mengaku dirinya adalah al-qothbul maktum yang menjadi perantara/ penengah antara semua anbiya' (para nabi) dan auliya' (para wali). Lihat Ilat Tashawwuf ya 'Ibadallah oleh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi, Jam'iyyah Ihyait Turats al-Islami, hal 42).

Tarikat Wahidiah
Tarikat yang ini didirikan oleh Kyai Majid Ma`ruf di Kedonglo, Kediri (Jawa Timur), 1963. Theoretical tarikat ini terbuka sifatnya, kerana orang tidak usah mengucapkan sumpah untuk menjadi anggota: siapa saja yang mengamalkan zikir salawat wahidiah sudah dianggap sebagai anggota.

Motivasi mendirikan tarikat ini adalah meningkatkan ketaatan orang Islam kepada perintah-perintah agama. Pendirinya menganggap masyarakat Jawa dewasa ini mengalami kekosongan agama dan kejiwaan. Itulah sebabnya ia mengajak masyarakat Islam agar meningkatkan ketakwaannya kepada Tuhan dengan setiap kali mengucapkan zikir "fafirruu ilallaah", ertinya: "marilah kita kembali ke jalan Allah."

Begitulah beberapa tarikat dari buku Leksikon Islam 2

tasawuf belitan iblis

H Hartono Ahmad Jaiz

islamic media info ibnuisa files

banksufi.blogspot.com



Artikel Berkaitan: